Sri Mulyani Dicecar DPR soal Pajak Sembako: Bikin Berat Masyarakat!

Selasa, 14 September 2021 14:57

sri mulyani

Pemerintah memiliki rencana untuk mengenakan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk sejumlah barang dan jasa. Misalnya sembako, jasa pendidikan sampai jasa layanan kesehatan. Hal ini tercantum dalam rencana revisi UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).

Hari ini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menghadiri rapat kerja dengan komisi XI DPR RI. Rencana-rencana tersebut ditolak oleh sejumlah anggota DPR. Menurut mereka, pengenaan PPN di dalam kondisi ekonomi yang masih terdampak pandemi akan membuat masyarakat semakin sulit.

Anggota komisi XI DPR Fraksi Partai Nasdem Fauzi Amro mengungkapkan dirinya menolak tegas pengenaan pajak ke sejumlah bidang tersebut.

 

"Hal ini akan memberatkan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah," kata dia dalam raker di komisi XI, Senin (13/9/2021).

Fauzi menyebutkan lebih baik pemerintah menarik pajak dari sumber lain misalnya mengejar perusahaan teknologi yang beroperasi di Indonesia untuk membayar pajak seperti Google, Facebook, Instagram, Twitter sampai Netflix. Selanjutnya ecommerce seperti Tokopedia sampai Shopee.

"Untuk menutupi defisit, Nasdem setuju berbagai sektor potensial yang ditarik seperti pajak cukai plastik, pajak digital, minuman berpemanis hingga pajak karbon," jelas dia.

Kemudian anggota komisi XI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ecky Awal Mucharam menyayangkan jika pemerintah memiliki rencana penarikan pajak tersebut.

Apalagi di masa pandemi kebutuhan pokok seperti sembako, pendidikan hingga kesehatan merupakan hal yang sangat penting. "Fraksi PKS dengan tegas tidak bisa menerima pengenaan PPN atas kebutuhan pokok yang mendasar. PKS tidak bisa menerima jika layanan sosial dan pendidikan hingga keagamaan dikenakan pajak," jelas dia.

Selanjutnya anggota komisi XI DPR fraksi Partai Demokrat Vera Febyanthy juga meminta penjelasan kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terkait rencana tersebut. Menurut dia, pemerintah harus selektif dan sensitif dalam memasukkan objek pajak baru. Apalagi yang terkait dengan hajat hidup orang banyak.

"Sensitivitas tersebut sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas dan ini tidak menurunkan daya konsumsi masyarakat yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar dia.

(sumber : finance.detik.com)

Berita Lainnya

Nasional

Berorientasi Bisnis, Syarief Hasan Sebut Yusril Tutup Mata Atas Pelanggaran Hukum dan Demokrasi

Nasional

Utang Melebihi Setengah Aset, Wakil Ketua MPR: Perlu Langkah Strategis Kurangi Utang

Nasional

Legislator William Wandik Nilai Gugatan Kubu Moeldoko Lemah, Optimis Ditolak MA

Nasional

Demokrat Kubu AHY Optimistis MA Keluarkan Keputusan Seadil-adilnya

Nasional

Judicial Review Pro Muldoko Masuk Kategori “Begal Politik”

Nasional

Perlu Keseriusan Serap Produksi Baja Dalam Negeri, Legislator: Krakatau Steel Sudah Sangat Kompleks

Nasional

Pemerintah Diminta Ambil Sikap soal AUKUS, Jangan Cuma Bilang Khawatir

Nasional

Anggota FPD DPR RI Perjuangkan Peningkatan Upah Guru Honor

Berita: Nasional - Berorientasi Bisnis, Syarief Hasan Sebut Yusril Tutup Mata Atas Pelanggaran Hukum dan Demokrasi •  Nasional - Utang Melebihi Setengah Aset, Wakil Ketua MPR: Perlu Langkah Strategis Kurangi Utang •  Nasional - Legislator William Wandik Nilai Gugatan Kubu Moeldoko Lemah, Optimis Ditolak MA •  Nasional - Demokrat Kubu AHY Optimistis MA Keluarkan Keputusan Seadil-adilnya •  Nasional - Judicial Review Pro Muldoko Masuk Kategori “Begal Politik” •  Nasional - Perlu Keseriusan Serap Produksi Baja Dalam Negeri, Legislator: Krakatau Steel Sudah Sangat Kompleks •  Nasional - Pemerintah Diminta Ambil Sikap soal AUKUS, Jangan Cuma Bilang Khawatir •  Nasional - Anggota FPD DPR RI Perjuangkan Peningkatan Upah Guru Honor •