Pernyataan SBY atas Terorisme di Paris

Rabu, 14 Januari 2015 00:00

Jakarta: Presiden RI ke-6 yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan pernyataan panjang terkait terorisme dan kekerasan atas nama agama (menyusul pemuatan karikatur yang dianggap menghina Islam di Majalah satire Charlie Hebdo) di Paris, Perancis. Pernyataan tersebut disampaikan SBY melalui akun pribadinya di media sosial Twitter, @SBYudhoyono, Rabu (14/1/2015) pagi.

 

Berikut pernyataan lengkap SBY yang memuat pandangan serta solusi untuk menghentikan terorisme dan  kekerasan atas nama agama di seluruh dunia:

 

Seminggu ini dunia memanas, menyusul terjadinya kekerasan atas nama agama di Paris, yang mengakibatkan jatuhnya 17 korban jiwa.


Dari Perancis dikumandangkan bahwa dunia berada dalam peperangan, “We are at War”. Mungkin lebih dari sekadar anti-terorisme.


Inilah yang saya cemaskan. Jangan sampai Islam dihadapkan dengan non-Islam. Jika ini terjadi, yang “menang” kaum teroris, yang lain kalah.


Terorisme harus kita cegah dan perangi. Tak boleh atas nama agama, sebuah kelompok lakukan pembunuhan dan main hakim sendiri.


Beberapa kali Indonesia alami terorisme. Korbannya masyarakat yang tidak bersalah. Kita tolak terorisme dari siapa pun, agama mana pun.


Dunia memang harus bersatu untuk cegah dan hentikan terorisme. Tetapi, jangan sampai dunia dibelah antara Islam lawan non-Islam.


Para pemimpin dunia dan nasional serta pemimpin agama dan masyarakat harus aktif cegah berkembangnya ekstrimisme dan radikalisme.


Pemimpin agama harus berani katakan terorisme adalah penyimpangan dari ajaran agama. Jangan diam dan jangan membiarkannya.


Untuk negeri kita, Indonesia, mari kita pastikan kehidupan antar-umat beragama makin teduh, makin toleran, danmakin rukun.


Selama 10 tahun yang lalu, dengan dukungan banyak pihak, saya bekerja keras untuk menjaga kerukunan dan toleransi, serta tanggulangi terorisme.


Saya yakin Pak Jokowi juga akan lakukan hal yang sama. Mari kita dukung Presiden dan pemerintah untuk laksanakan tugas penting ini.


Gerakan untuk memperkuat toleransi dan kerukunan ini harus dilaksanakan di seluruh dunia. Semua mesti terlibat. Tak cukup hanya dialog.


Di seluruh dunia, umat Islam juga tidak boleh merasa dikalahkan dan dipermalukan. Mereka harus merasa setara di negara mana pun.


Sebaliknya, di seluruh dunia, Islam juga harus menampilkan wajah yang damai serta tidak menaburkan ancaman, kekerasan dan ketakutan.


Tidakkah Islam agama yang menaburkan rahmat bagi semesta alam. Karenanya umat Islam harus makin maju, damai dan jadi solusi dunia.


 

Yang bisa menampilkan wajah Islam seperti itu ya umat Islam sendiri, termasuk ulama dan pemimpin Islam. Termasuk saya dan saudara jika muslim.


Dunia masa depan haruslah menjadi dunia yang makin sepi dari radikalisme, ekstrimisme dan terorisme. Dari mana pun datangnya.


Peperangan di negara Islam yang masih terjadi, pada saatnya harus berakhir, karena hanya akan timbulkan korban jiwa, tragedi, serta kebencian.


Meskipun perang itu bertujuan untuk perangi terorisme, bukan Islam, tetapi lama kelamaan bisa dianggap memerangi dunia Islam.


Ke depan, masyarakat dunia juga harus saling hormati nilai dan keyakinan pihak lain. Tak paksakan sistem nilai dan keyakinan yang dianutnya.


Rakyat Indonesia, yang mayoritasnya umat Islam, harus makin maju dan sejahtera, serta mendapatkan keadilan, secara sosial-ekonomi.


Kembali ke pembunuhan para kartunis di Paris, saya memahami kemarahan yang ada. Tetapi, dengan niat baik, mari kita cari penyebabnya.


Membuat gambar Nabi Muhammad, apalagi karikatur, bagi umat Islam sangat ditabukan. Ini juga berlaku bagi umat Islam sendiri.


Bagi dunia Barat, karikatur Nabi Muhammad bagian dari kebebasan (freedom of speech or expression).  Mutlak, tak boleh dibatasi.


Tetapi, bagi dunia Islam hal itu sebuah penistaan dan pelecehan (defamation, blasphemy). Pelakunya mesti mendapatkan sanksi.


Di sinilah masalahnya. Ada perbedaan yang sangat fundamental. Ada “clash of values” dan “clash of perceptions”. Ini harus diatasi.


Ke depan kita harus saling memahami dan menghormati pandangan yang berbeda. Bertenggang rasa. Kalau tidak harganya terlalu mahal.


Membuat karikatur Nabi Muhammad bukan hanya membikin marah kaum yang ekstrim dan radikal, tetapi juga umat Islam secara keseluruhan.


Beberapa tahun lalu, saya keluarkan pernyataan untuk memprotes rencana pembakaran Al Qur’an oleh seorang pemuka agama di Amerika.


Dalam pernyataan itu saya didampingi para pemimpin agama, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Tentu semua marah.


Bagi saya, pembakaran kitab suci agama apa pun adalah contoh penggunaan kebebasan (freedom) yang kebablasan. Tak bisa ditoleransi.


Saya cinta perdamaian. Saya ingin hubungan Islam dan Barat makin baik. Mestinya membikin karikatur Nabi Muhammad bisa dicegah.


Ke depan, pemimpin Islam bertanggung jawab untuk cegah kekerasan, apalagi pembunuhan, sekalipun mereka dianggap menghina Islam.


Sebaliknya, pemimpin Barat bertanggung jawab agar kebebasan tidak digunakan untuk menista Islam, misalnya karikatur Nabi Muhammad.


Saya punya pandangan bahwa kebebasan tetap mengenal batas. Saya kira itu pula semangat dari Universal Declaration of Human Rights.


 

Sebenarnya, bukan hanya “power tends to corrupt” (disalahgunakan). “Liberty too can corrupt. Absolute liberty can corrupt absolutely.


Saya mengikuti liputan media internasional sejak aksi kekerasan di Paris. Yang sangat ditonjolkan isu “kebebasan”nya (freedom of speech).


Jika kita ingin mencegah hal begitu tidak terus terjadi, perlu diangkat pula penggambaran karikatur Nabi Muhammad sebagai penyebab.


Jangan salah mengerti, saya juga mengecam pembunuhan para kartunis itu. Tapi saya berpikir bagaimana mencegahnya di masa depan.


Beberapa hari lalu, di Amerika Serikat, pandangan ini juga saya sampaikan kepada mereka yang peduli dan ingin menjadi bagian dari solusi.


Saya mengajak bangsa mana pun, Amerika, Eropa, Asia, Islam dan lainnnya, untuk memilih solusi yang lebih tepat serta bijak. Tidak harus perang.


Terakhir, pagi ini, di Jepang, saya lihat TV-TV menyiarkan bahwa karikatur Nabi Muhammad justru akan dibuat besar-besaran di Eropa.


Saya berharap para pemimpin sedunia, termasuk pemimpin agama, bisa berbuat sesuatu. Mari kita cegah memburuknya situasi dunia.


Banyak yang skeptis dan pesimis. Mereka mengatakan tidak mungkin terorisme serta tegangnya hubungan Islam dan Barat bisa diatasi.


Saya setuju ini isu yang sensitif dan masalah yang berat. Tak mudah mengatasinya. Tetapi dunia yang “sedikit” lebih baik tetap dimungkinkan. *SBY*


www.Demokrat.or.id

Berita Lainnya

Nasional

Bupati Penajam Paser Utara Kena OTT, Demokrat Tak Toleransi Tindakan Koruptif

Nasional

Legislator Apresiasi Langkah Kepolisian Tangkap Pelaku Penendang Sesajen

Nasional

Target Sejahterakan Rakyat, Legislator Demokrat Beber Keuntungan Operasi Damai Cartenz 2022 di Papua

Nasional

Anggota DPR Dukung Pemerintah Usut Tuntas Kasus Satelit Kemhan: Harus Berani!

Nasional

PD Singgung Sosok SBY soal Pembahasan RUU IKN: Harus Hati-hati

Nasional

Sartono Hutomo Prihatin Indonesia Melimpah Batubara Tapi Hanya Punya Cadangan Seminggu

Nasional

Sejumlah Distrik Diterjang Banjir, William Wandik: Layak Penguatan Mitigasi Bencana

Nasional

Pesan PD ke Ferdinand soal Penahanan: Itu Konsekuensi, Tak Bisa Dihindari

Berita: Nasional - Bupati Penajam Paser Utara Kena OTT, Demokrat Tak Toleransi Tindakan Koruptif •  Nasional - Legislator Apresiasi Langkah Kepolisian Tangkap Pelaku Penendang Sesajen •  Nasional - Target Sejahterakan Rakyat, Legislator Demokrat Beber Keuntungan Operasi Damai Cartenz 2022 di Papua •  Nasional - Anggota DPR Dukung Pemerintah Usut Tuntas Kasus Satelit Kemhan: Harus Berani! •  Nasional - PD Singgung Sosok SBY soal Pembahasan RUU IKN: Harus Hati-hati •  Nasional - Sartono Hutomo Prihatin Indonesia Melimpah Batubara Tapi Hanya Punya Cadangan Seminggu •  Nasional - Sejumlah Distrik Diterjang Banjir, William Wandik: Layak Penguatan Mitigasi Bencana •  Nasional - Pesan PD ke Ferdinand soal Penahanan: Itu Konsekuensi, Tak Bisa Dihindari •