PD-PKS Tetap Dukung Pilkada Digelar 2022

Selasa, 02 Februari 2021 17:20

pilkada

Partai Demokrat (PD) dan PKS mendukung agar pemilihan kepala daerah (pilkada) tetap digelar pada 2022/2023. Sesuai dengan siklus 5 tahunan di wilayah tersebut.

Waketum Partai Demokrat, Marwan Cik Hasan, mengatakan pilkada serentak 2024 akan memberatkan anggaran. Dia juga berbicara terkait demokrasi yang tidak sehat jika suatu wilayah dipimpin penanggung jawab dalam waktu yang lama.

"Kita tetap mendorong adanya pilkada 2022 dan 2023 sebagai bagian dari siklus 5 tahun demokrasi kita, kalau tidak ada pilkada berarti semua jabatan bupati dan gubernur akan diisi oleh PJ yang akan bekerja cukup lama. Ini kurang sehat untuk demokrasi kita, juga untuk program pembangunan di daerah. Lagi pula kalau semuanya ditumpuk di 2024 meskipun berbeda bulannya akan memberat anggaran, penyelenggaraan juga kejenuhan pemilih," kata Marwan, kepada wartawan, Minggu (31/1/2021).

Sekretaris Fraksi Demokrat DPR ini menghargai pandangan fraksi lain yang tetap ingin pilkada 2024. Menurutnya, revisi UU Pemilu harus tetap berjalan karena dalam draf itu bukan hanya terkait pilkada.

"Saya pikir kembali ke pandangan obyektif masing-masing partai. Kalau di DPR kan, RUU pemilu semua sepakat masuk ke Prolegnas Prioritas 2021 tinggal menunggu pengesahan di Paripurna jadi RUU prioritas 2021," ujar Marwan.

"Mesti tetap dibahas saja sebagai RUU usul inisiatif DPR nanti diajukan ke pemerintah/presiden, nanti presiden baru memberikan tanggapan mau lanjut bahas atau ditolak. Kan revisi RUU tidak hanya berisi ada tidak pilkada 2022 dan 2024 tetapi berbagai penyempurnaan untuk demokrasi kita yang lebih baik," lanjutnya.

Dihubungi terpisah, Ketua DPP PKS, Bukhori Yusuf, mengatakan partainya tetap mendukung pilkada 2022/2023. Menurutnya, dalam situasi pandemi, dibutuhkan pemimpin yang kondusif di suatu wilayah .

"Saya kira ada beberapa partai pendukung pemerintah yang setuju normalisasi yaitu ke 2022 dan 2023. PKS setuju 2022 dan 2023 agar tidak terjadi yang tidak normal alias terlalu banyak. Dalam situasi pandemi seperti ini diperlukan kepemimpinan yang kondusif dan berkewenangan penuh untuk segera bisa menyelesaikan soal pandemi," ucapnya.

Lebih lanjut, dia berharap partai yang sejak awal mendukung adanya pilkada 2022 tetap konsisten. "Kami berharap partai-partai yang ada konsisten dengan pandangannya sebagaimana di awal," ujar Bukhori.

Sebelumnya, PDIP, PPP, PKB, dan PAN sudah menyatakan sikap mendukung pilkada 2024. Bahkan terbaru Gerinda dan Golkar mengubah sikap untuk mendukung pilkada 2024. Namun NasDem, begitu juga PKS dan PD, tetap menginginkan pilkada 2022.

Presiden Jokowi pun telah menggelar pertemuan dengan sejumlah mantan juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) pada Pilres 2019. Pertemuan itu membahas berbagai isu terkini, termasuk Revisi Undang-Undang (RUU) Pemilu.

Eks jubir TKN dari PPP, Arsul Sani, mengatakan Jokowi meminta para parpol di parlemen benar-benar mempertimbangkan soal revisi UU Pemilu. Terlebih, di tengah pandemi COVID-19 masih banyak persoalan yang belum benar-benar pulih.

"Khusus terkait Pemilu dan Pilkada, Presiden meminta agar semua kekuatan politik, terutama parpol yang memiliki kursi di DPR, untuk mempertimbangkan betul soal perubahan UU (Pemilu)," ucapnya.

"Karena di tengah-tengah pandemi COVID-19 seperti ini dan situasi ekonomi yang masih jauh dr pulih, jika ada hajatan-hajatan politik yang berpotensi menimbulkan ketegangan antar elemen masyarakat seperti hal-nya Pilkada di daerah-daerah tertentu, maka ini akan mengganggu pemulihan baik sektor ekonomi maupun kesehatan masyarakat itu sendiri," sambung Arsul.

Menurut Arsul, Presiden Jokowi ingin setiap parpol serius memikirkan segala kepentingan terkait pelaksanaan pilkada. Jokowi, dikatakan Arsul, ingin setiap partai memerhatikan manfaat dan mudarat jika pilkada digelar lebih cepat dari UU Pemilu saat ini.

"Jadi intinya Presiden meminta agar dikaji betul dari berbagai kepentingan, tentunya kepentingan bangsa dan negara, manfaat dan mudaratnya ada Pilkada lagi yang lebih cepat dari pada yang sudah ditetapkan dalam UU yakni akhir tahun 2024," ungkapnya.

Berita Lainnya

Nasional

Ibas: Kelangkaan Pupuk Petani Jadi Persoalan Klasik dari Tahun ke Tahun

Nasional

Ibas Dorong Percepatan Vaksinasi Daerah Agar Belajar Mengajar Kembali Efektif

Nasional

Kawal Program BSPS, Ketua FPD DPR: Negara Bisa Kempes Sedikit Kantongnya, Rakyat Jangan

Nasional

Demokrat Kritik Kereta Cepat Pakai APBN: Rakyat Tak Butuh

Nasional

PD Minta Kader Jaga Keutuhan Partai: Musuh Kita Kubu Moeldoko

Nasional

BPOM dan Anggota Komisi IX DPR RI ZA Sosialisasi Obat dan Makanan di Merangin dan Pelepat Ilir

Nasional

Dua Tahun Jokowi-Ma’ruf Amin, Legislator Sebut Sektor Pertanian Masih Kurang Dapat Perhatian

Nasional

Benny K Harman Baca Langkah Yusril: Ingin Rebut Demokrat Secara Ilegal Atas Nama Hukum dan Demokrasi

Berita: Nasional - Ibas: Kelangkaan Pupuk Petani Jadi Persoalan Klasik dari Tahun ke Tahun •  Nasional - Ibas Dorong Percepatan Vaksinasi Daerah Agar Belajar Mengajar Kembali Efektif •  Nasional - Kawal Program BSPS, Ketua FPD DPR: Negara Bisa Kempes Sedikit Kantongnya, Rakyat Jangan •  Nasional - Demokrat Kritik Kereta Cepat Pakai APBN: Rakyat Tak Butuh •  Nasional - PD Minta Kader Jaga Keutuhan Partai: Musuh Kita Kubu Moeldoko •  Nasional - BPOM dan Anggota Komisi IX DPR RI ZA Sosialisasi Obat dan Makanan di Merangin dan Pelepat Ilir •  Nasional - Dua Tahun Jokowi-Ma’ruf Amin, Legislator Sebut Sektor Pertanian Masih Kurang Dapat Perhatian •  Nasional - Benny K Harman Baca Langkah Yusril: Ingin Rebut Demokrat Secara Ilegal Atas Nama Hukum dan Demokrasi •