Untitled Document Kamis, 27 Februari 2020
Untitled Document
HOME | BERITA | STRUKTUR ORGANISASI | VISI-MISI | AGENDA | PROFIL ANGGOTA | GALERI FOTO | VIDEO | MAJALAH | LINK
Untitled Document

BERITA

Nasional | Internasional | Parlemen

11 Februari 2020 - Berita Nasional

Herman Khaeron Minta Direksi AP, Garuda, Airnav dan Merpati Terbuka kepada Rakyat


fraksidemokrat.org, Jakarta — ‘’Melihat kinerja keuangan, ada tantangan ke depan. Memang jika mengukur pada hasil akhir keuangan, sepertinya baik-baik saja. Tapi jika didalami lebih jauh, rasanya masih banyak persoalan yang bisa diperdebatkan. Saya harap seluruh direksi membuka komunikasi dan respon terbuka, jangan hanya kepada anggota DPR tapi juga kepada rakyat. Disibukkan oleh aspirasi rakyat adalah amal saleh.’’

Statemen ini meluncur dari Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR RI dengan Angkasa Pura I, Angkasa Pura II, Airnav Indonesia, Garuda Indonesia, dan Merpati Airlines di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta (11/2/2020).

Dalam kesempatan ini, Herman menyampaikan sejumlah pertanyaan sebagai upaya mengkritisi kinerja perusahaan-perusahaan plat merah itu. ‘’Saya mulai dari Merpati. Masih optimiskah Merpati bisa beroperasi? Tentu optimis ini harus didasari fakta. Bagaimana caranya agar Merpati bebas dari seluruh beban dan tidak menjadi beban?  Menurut kami, sebenarnya tidak susah jika negara ingin Merpati ingin beroperasi lagi untuk mengisi ruang-ruang yang kini diisi swasta. Tapi bagaimana caranya agar Merpati bisa hidup lagi? Garuda kan segmennya kelas menengah ke atas, pertanyaannya tinggal bagaimana Merpati mengisi kebutuhan kelas lebih bawah? Atau, di mana sebenarnya segmen Merpati?’’ kata Herman.

Tentang Garuda, Herman menyebut banyaknya kontroversi yang harus dibicarakan dan dijelaskan. Ia misalnya, mempertanyakan kebenaran tentang laba bersi di tahun 2015 yang disebut-sebut naik, tapi anjlok di tahun 2017 dan kemudian dikabarkan naik lagi setelah itu. 

‘’Jadi laporan ini benar tidak? Apakah ini seperti yg diberitakan di media bahwa Garuda melakukan window dressing dan financial enginering? Harus ada pendalaman laporan keuangan Garuda. Garuda akan ambil kelas menengah ke atas, low cost akan diambil Citilink. Lalu seberapa kuat kemampuan Garuda untuk bersaing ke depan dengan situasi saat ini? Kalau berhitung antara high cost dan low cost, segmentasi Garuda jadi tidak jelas. Karena tiket mahal, sehingga untuk rute internasional banyak beralih ke penerbangan lain,’’ papar Herman lagi.

Mengenai Angkasa Pura (AP) I dan II, Herman juga menegaskan tentang pentingnya pelayanan terbaik dan menarik bagi penumpang. Menurut lelaki kelahiran Kuningan, 04 Mai 1969 ini, keterlaluan jika keuntungan AP turun. ‘’Karena ini adalah usaha monopoli, tidak ada swasta yang mengurus bandara. Hal lain, angkutan reguler di dalam bandara juga mengapa tidak disiapkan karena jarak jauh sekali? Contohnya di Juanda dan Ngurah Rai. Lalu dimana konteks pelayanan lebih baik?’’ cecar Herman.

Kang Hero, demikian ia biasanya disapa, mengatakan bahwa beberapa bandara di Tanah Air sudah tidak cukup kapasitasnya pada jam-jam sibuk. ‘’Itu hitungannya bagaimana? Karena jika lihat fakta di beberapa bandara dengan segmen kelas menengah ke bawah tetap tidak nyaman. Sering terlihat antrean sangat lama karena over visit. Bagaimana penataan untuk hal-hal seperti ini?’’ kata Herman. 

Sementara menanggapi Airnav, Herman menyatakan, ‘’Semoga tetap aman, karena mengatur traffic di udara sangat susah. Selanjutnya saya masih ingin mendalami laporan-laporan keuangannya nanti,’’ pungkas legislator dari dapil Jawa Barat 8 itu.

(mediafpd)





LINK WEBSITE

Website Kepresidenan & Wakil Presiden
Website Kementrian
Website Lembaga Tinggi Negara
Website Media
Website Organisasi Internasional

www.demokrat.or.id

DPP PARTAI DEMOKRAT

MEDIA SOSIAL FPD

Twitter: @FPD_DPR

Facebook: Fraksi Partai Demokrat
 

Copyright © Fraksi Partai Demokrat - 2020